no comments

Literasi Sains Siswa Indonesia

Ayobelajarsains.com- Mendengar kata literasi sains, saya teringat perjuangan saya (Seperti di Film action saja) dalam menyelesaikan studi saya di Universitas Pendidikan Indonesia. Tesis saya adalah meningkatkan literasi sains siswa yaitu dengan menggunakan bahan ajar yang saya kembangkan. Namun, bukan tesis saya yang akan kita bahas melainkan tentang bagaimana capaian literasi sains siswa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara sahabat. Terdapat studi internasional yang digunakan untuk melihat tingkatan kemampuan literasi sains yaitu OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan diadakan setiap tiga tahun sekali yang dimulai sejak tahun 2000. Studi tersebut dinamakan PISA (Programme for International Student Assessment). Dan Indonesia telah mengikutiya beberapa kali.

Sebelum melangkah lebih jauh, apakah sahabat sudah mengetahui tentang apa definisi dari Literasi Sains itu sendiri? Mari siapkan alat tulis anda, definisi Literasi Sains adalah sebagai berikut kata Literasi sains (science literacy, LS) berasal dari dua kata Latin, yaitu literatus, artinya ditandai dengan huruf, melek huruf, atau berpendidikan, dan scientia yang artinya memiliki pengetahuan. Literasi sains adalah kemampuan setiap individu untuk memahami dan mengaplikasikan pengetahuan dalam memecahkan persoalan yang berkaitan dengan sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari (OECD, 2014). Selain itu juga, NRC (1996) mendefinisikan sebagai pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan proses dalam mengambil keputusan pribadi yang berkaitan dengan sosial, budaya dan ekonomi.

Terdapat beberapa ciri Menurut OECD (2013) seseorang yang memiliki literasi sains. Individu yang memiliki literasi sains yang baik senantiasa mengikutsertakan pertimbangan wacana tentang sains dan teknologi yang membutuhkan kompetensi untuk menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan mendesain pertanyaan ilmiah serta menginterpretasi data dan bukti secara ilmiah.

Berdasarkan Kerangka Asesmen Literasi Sains PISA 2015 (OECD,2013) terdapat beberapa aspek dalam penilaian PISA 2015. Aspek dalam PISA 2015 adalah sebagai berikut:

  1. Konteks
  2. Kompetensi
  3. Sikap
  4. Pengetahuan
Literasi sains 2015

Literasi sains 2015

Konteks dalam aspek PISA ini membahas tentang isu atau permasalah yang sedang dihadapi baik secara permasalahan yang dihadapai oleh individu, lokal ataupun secara global  yang melibatkan sains dan teknologi. . Penentuan kriteria konten harus relevan dengan situasi kehidupan nyata, merupakan konsep ilmiah yang penting dan berguna dalam jangka waktu yang lama serta sesuai dengan perkembangan anak usia 15 tahun. Kompetensi merupakan kemampuan untuk menjelaskan fenomena ilmiah, mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah, dan menafsirkan data dan bukti ilmiah.Sikap yang mengindikasikan ketertarikan sains, mendukung penyelidikan ilmiah, dan memiliki kesadaran terhadap isu atau masalah lingkungan (OECD 2013). Keempat aspek ini saling berhubungan satu sama lain.

Begitu rumitnya penilaian literasai sains ini ya. Bagaimana tentang skore literasi sains siswa bangsa ini? Indonesia telah mengikuti program PISA sejak tahun 2000 hingga 2012. Dalam keikutsertaannya, nilai literasi sains siswa tidak mengalami kemajuan. Hal ini dilihat dari skor literasi sains peserta didik Indonesia dari tahun 2000-2012 berturut-turut adalah 393, 361, 393, 383, 382. (OECD, 2003; 2004; 2007; 2010; 2014). Hasil analisis terhadap skor literasi sains PISA tahun 2012 peserta didik Indonesia berada pada level terendah (level 1) sebesar 41,9 %  dan level tertinggi di level 4 sebesar 0,6% dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan PISA, sementara banyak di antara peserta dari negara lain yang bisa mencapai level 5 dan 6 (OECD, 2014). Hal ini merupakan tantangan bagi para praktiksi pendidikan untuk giat dan semangat dalam meningkatkan literasi sains siswa Indonesia.

Bagaimana Cara Meningkatkan Literasi Sains Siswa Indonesia?

Holbrook dan Rannikmae (2009) menyatakan bahwa terdapat salah satu cara yang dapat meningkatkan literasi sains siswa diantaranya adalah Pemahaman terhadap nature of science (NOS) memainkan peran yang penting dalam perkembangan literasi sains. Sejalan dengan pendapat ini McComas (2002) menyatakan bahwa penerapan NOS dalam pembelajaran dapat meningkatkan pengetahuan terhadap konten sains, pemahaman sains, minat terhadap sains, pengambilan keputusan dan proses pembelajaran.

Supaya individu memiliki kemampuan literasi sains,  Lederman et al. (2012) mengemukakan bahwa seseorang tersebut harus memahami  materi pelajaran, nature of science, dan scientific inquiry. Ayo kita kampanyekan untuk giat belajar sains agar literasi generasi bangsa tidak kalah dengan negara tetangga.

Rujukkan

  • Holbrook, J & Rannikmae, M. (2009). The meaning of scientific literacy. International Journal of  Environmental & Science Education, 4(3), hal 275-288
  • Lederman, N. G., Antink, A. & Bartos, S. (2012). Nature of science, scientific inquiry, and socio-scientific issues arising from genetics: a pathway to developing a scientifically literate citizenry. Sci & Educ DOI 10.1007/s11191-012-9503-3
  • McComas et al. (2002). The role and character of the nature of science dalam McComas, W.F., The nature of Science in Science Education Rationales and Strategies, h 3-39. United States of America: Kluwer Academic Press.
  • National Research Council. (1996). National science education standards. Washington,Dc : National Academy Press.
  • OECD. (2003). Literacy skills for the world of tomorrow – further results from PISA 2000. OECD Publishing

     

  • OECD. (2004). Learning for tomorrow’s world – first results from PISA 2003. OECD Publishing

     

  • ECD. (2007). PISA 2006: science competencies for tomorrow’s world, vol. 1. OECD Publishing.

     

  • OECD. (2010). PISA 2009 results: what students know and can do – student performance in reading, mathematics and science (volume 1). OECD Publishing.

     

  • OECD. (2013).  PISA 2015 draft science framework. OECD Publishing.

     

  • OECD. (2014). PISA 2012 Results: what 15-year-olds know and what they can do with what they know. OECD Publishing.

 

No Responses

Reply